Selasa, 26 Februari 2019

Sebentuk Tinjauan: Aku dan UT

Mengimla nukilan-nukilan hamba, dipetik simpulan bahwa opsi tutur dan lagamnya kelewat boyak. Di tulisan ini, hamba akan berupaya memfungsikan lema berlainan, sebentuk padanan dari setiap terma. Sungguh diniscayakan sebentuk tesaurus.

Di dalam giliran ini, hamba akan mencatat secuil liku-liku hidup sebagai mahamurid di Universitas Terbuka. Sekadar untuk dimafhumi, selepas SMA di tahun 1987, karena tidak berjaya di SNMPTN (dahulu labelnya SIPENMARU), hamba berguru di sebuah sekolah tinggi partikelir di Bandung. Sayangnya setop di paruh lintasan lantaran sejumlah kilah yang tidak penting dikisahkan di sini.

Universitas Terbuka yang ditetapkan pada warsa 1984 mengaplikasikan cara studi blak-blakan dan ruang sela panjang antara dua tempat. Blak-blakan takrifnya gamblang pada segenap sonder menaksir baya dan situasi buritan, kendati kondisi edukasi sedikitnya SMA. Ruang sela panjang antara dua tempat maknanya mahamurid yang mencari ilmu di UT tidak wajib berlihat wajah dengan pensyarah. Selepas memperoleh bahan materi pokok atau modul, mahamurid dimohonkan untuk studi otonom sampai momennya melakoni ujian akhir semester (UAS).


Tahapan sejak daftar dan registrasi mata kuliah seingat saya sebagai berikut:
1. Daftar dan registrasi mata kuliah online di http://sia.ut.ac.id
2. Print LIP (lembar informasi pembayaran) di http://sia.ut.ac.id
3. Bayar uang kuliah di bank BTN, Mandiri, atau BRI. Bisa juga bayar di Pos Indonesia dan gerai-gerai Alfa Group seperti: Alfamart, Alfamidi, dan Lawson.
4. Ambil bahan ajar atau bahan materi pokok di kantor UT.
5. Daftar dan ikut tuton atau tutorial online (tidak wajib) di http://elearning.ut.ad.id.
6. Print KTM/kartu tanda mahasiswa sementara (untuk ditukar dengan kartu mahasiswa betulan di kantor UT, print KTPU (kartu tanda peserta ujian) di http://sia.ut.ac.id
7. Ikut UAS.

Semasa catur semester kuliah di UT, berdasarkan pertimbangan hamba, UT selayaknya sanggup jauh makin apik lagi, dari perspektif mutu fasilitas maupun materi bahan ajar. Yang amat mencolok beta temui adalah fasilitas daring nan disediakan. Sejauh ini lagi kelewat berjibun hambatan. Betapa bagusnya sekiranya hadir penyempurnaan teknologi informasi. Yang kedua, bahan ajar. Ini bukan main genting. Semasa ini hamba peroleh materi ajar UT masih terbatas dalam menggenapi derajat kualitas yang diasankan dari sebentuk jamiah tanah air. Selain itu, buku materi pokok beberapa mata kuliah terdapat banyak typo dan kesalahan di dalamnya. Sering didapati kunci jawaban salah. Yang ketiga, kualitas tutor perlu ditingkatkan. Tutor fungsinya antara lain untuk membantu mahasiswa jika memiliki pertanyaan yang berkenaan dengan materi mata kuliah, mengarahkan diskusi, serta menyediakan tugas dan latihan di dalam sesi tutorial online (tuton).

Di luar segala kekurangan yang saya beberkan di atas, saya optimis jika UT bereformasi, maka UT akan menjadi sebuah institusi pendidikan tinggi yang tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia, dan menciptakan lebih banyak lagi lulusan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Peringatan:
Ampun, di bagian ekor risalah telah kian penat hamba untuk lanjut menjenguk bausastra. Harap sadar. Kamsia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar